Minggu, 19 April 2015

Hikmah Sakit bagi Muslim

KEHIDUPAN setiap insan di dunia ini senantiasa berfluktuasi. Suatu ketika seseorang hidup dalam keadaan sehat wal afiat, sedangkan pada masa lain berada dalam keadaan sakit. Baik kesehatan maupun sakit pada hakikatnya merupakan cobaan dari Allah SWT.

Sesungguhnya ujian atau cobaan paling ringan pada diri seorang muslim adalah ujian jasmani yang lazim disebut sakit. Ujian jasmani ini dimaksudkan Allah untuk menguji kesabaran dan kerelaan seorang hamba dalam menerima takdir-Nya.
Kalau ternyata ia sabar, Allah menetapkan pahala atau menghapus sebagian dosanya atau mengangkat derajatnya sehingga ujian itu menjadi nikmat baginya.
Sabda Rasulullah SAW: “Tidak ada seorang muslim pun yang ditimpa gangguan semacam tusukan duri atau yang lebih berat daripadanya melainkan dengan ujian itu, Allah menghapuskan perbuatan buruknya serta digugurkan dosa-dosanya sebagaimana pohon kayu menggugurkan daun-daunnya.” (HR Muttafaqun Alaih).
Ditinjau dari dimensi vertikal (antara hamba dengan al-Khaliq), paling tidak ada tiga manfaat/keutamaan musibah yang ditimpakan kepada seorang muslim.

Pertama, musibah sebagai penebus dosa yang pernah dilakukan manusia akibat kelalaian dan pelanggarannya terhadap perintah dan larangan Allah SWT. Maka Allah memberikan ganjaran di dunia secara kontan dan spontan. Hal ini mungkin sebagai tanda kasih sayang Allah kepada hamba-Nya sehingga si hamba bisa keluar dari dunia dalam keadaan bersih.
Kedua, musibah sebagai pengingat dan penguji kualitas kesabaran seseorang. Hal ini merupakan takdir Allah kepada hamba-Nya dan kelak di akhirat akan diganti dengan rahmat dan ridha-Nya. Apabila seorang hamba menghadapi cobaan dan penderitaan itu dengan ridha, ikhlas, dan terus-menerus berikhtiar mencari jalan keluar dengan cara yang sebaik-baiknya sesuai dengan tuntunan syara’, tidak mengeluh, mengaduh, apalagi meratap dan merintih, maka Allah menjanjikan akan mempermudah urusan hisabnya di hari akherat. Allah akan menyegerakan pahala-Nya, memberkati kehidupannya sehingga timbangan amalnya berat ke arah ketaatan dan pahala, dan berkesudahan dengan masuk jannatun-na’im.
Ketiga, musibah sebagai tangga untuk mencapai kualitas/derajat yang lebih tinggi di sisi Allah. Kita tentu masih ingat bagaimana musibah yang ditimpakan kepada Nabiyullah Ayub alaihissalam. Penderitaan yang menimpanya tidak melahirkan keluh kesah ataupun rintihan. Allah mencobanya dengan kebakaran, kehilangan harta benda, kematian anak-anaknya, bahkan yang terakhir sekujur tubuhnya dihinggapi penyakit yang menjijikkan bagi yang memandangnya sehingga Nabi Ayub diasingkan. Semuanya tidak sedikit pun mengurangi rasa syukur dan dzikirnya kepada Allah, sebagaimana yang biasa dilakukannya pada saat hidup berlumur nikmat dan karunia Allah. Semua itu diterima Nabi Ayub dengan penuh kesabaran dan tawakal sehingga akhirnya Nabi Ayub keluar sebagai pemenang, lolos dari ujian Allah. Allah mengembalikan semua nikmat yang pernah dianugerahkan-Nya serta mengangkat Nabi Ayub AS ke derajat (maqam) yang lebih tinggi di sisi-Nya.
Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda “Orang yang banyak mendapat ujian adalah para nabi, kemudian orang-orang yang lebih dekat derajatnya kepada mereka secara bertingkat dan berurutan. Seseorang diuji berdasarkan ketaatannya kepada agamanya. Jika ia sangat kukuh kuat dalam agamanya, sangat kuat pula ujian kepadanya. Dan jika ia lemah dalam agamanya, maka Allah mengujinya sesuai dengan tingkat ketaatannya kepada agamanya. Demikianlah bala’ dan ujian itu senantiasa ditimpakan kepada seorang hamba sampai ia dibiarkan berjalan di muka bumi tanpa dosa apa pun.” (HR Tirmidzi).
Hikmah sakit dari sisi pergaulan adalah sebagai penyambung silaturahmi. Akibat kesibukan dengan aktivitas masing-masing, silaturahmi dan saling berkunjung sering terlupakan. Agama mengajarkan kita untuk memenuhi hak sesama muslim, di antaranya adalah mengunjungi atau menjenguk si sakit (‘iyadatul maridh).
Pada saat menjenguk si sakit, paling sedikit kita diminta untuk mendoakan kesembuhan dan membesarkan hati si sakit. Kontak, pada saat-saat seperti ini, disamping menjalankan sunnah Rasul, juga melahirkan kesan lebih mendalam.
Terlebih lagi jika kunjungan ini ditindaklanjuti dengan pemberian bantuan berupa obat-obatan atau sarana lain yang dapat meringankan beban dan menunjang proses penyembuhan si sakit.
Bagi yang mengunjungi si sakit, paling tidak bisa mengambil pelajaran (ibrah) berharga dari kejadian ini, bahwasannya Allah Maha Kuasa untuk membolak-balikkan keadaan hamba-Nya. Si Fulan yang tadi pagi kelihatan kuat, segar dan sehat wal afiat, sekarang tergolek tak mampu berbuat apa-apa.
Secara ringkas, dapatlah disebutkan bahwa segala bentuk cobaan yang menimpa seorang hamba bertujuan untuk :
1. Menunjukkan kemutlakan kekuasaan Allah terhadap manusia bahwa manusia adalah hamba yang harus           senantiasa tunduk dan patuh serta merendahkan diri di hadapan al-Khaliq.
2. Melihat mana yang mukmin sejati dan mana yang munafik.
3. Menghapus dosa dan mengangkat derajat seorang hamba.
4. Mengungkapkan hakikat manusia itu sendiri sehingga tampak jelas kesabaran dan ketaatannya.
5. Membentuk dan menempa kepribadiannya sehingga benar-benar menjadi pribadi yang tahan banting               dan tahan uji, guna melahirkan umat berbudi luhur.
6. Melatih dan membiasakan diri yang diuji agar bertambah sabar, kuat cita-cita, dan tetap pendirian.
7. Melahirkan sifat dan sikap saling menolong dan mengasihi di antara sesama manusia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar